Rabu, 17 Desember 2014

Cegah Korupsi, Unila Gelar Sosialisasi UU Gratifikasi



Adm.News - Universitas Lampung (Unila) menggelar sosialisasi gratifikasi dan kepatuhan LHKPN (Laporan Hak Kekayaan Penyelenggaraan Negara) di ruang sidang gedung rektorat, Selasa (16/12). Kegiatan diselenggarakan guna melakukan pengendalian atas gratifikasi sebagai upaya melindungi pegawai agar tidak terjerumus dalam tindak pidana korupsi serta menumbuhkan transparansi dalam kegiatan pemerintahan.

Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Rektor II Unila Dr. Ir. Dwi Haryono, M.S., yang mewakili Rektor Unila ini menghadirkan beberapa pemateri yakni Kabag PLP Sutoyo, S.ip., M.M., dan Minto Waluyo perwakilan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Peserta dalam sosialisasi ini meliputi kepala biro, kepala bagian, kepala UPT, ketua lembaga, PPK tingkat universitas dan fakultas, pejabat pengadaan di masing-masing unit, dan perwakilan dari Polinela.

Dalam penyampaian materinya Minto menerangkan, menurut UU Nomor 31 Tahun 1999 jo, UU Nomor 20 Tahun 2001 penjelasan Pasal 12 b ayat (1), gratifikasi adalah pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Baik yang dilakukan di dalam maupun di luar negeri.

“Sebetulnya wajar dan netral, namanya pemberian sekadar tanda terima kasih dan sah-sah saja. Namun pada saat pemberian itu ada muatan-muatan tertentu sehingga menimbulkan benturan kepentingan maka pemberian itu bisa diindikasikan gratifikasi,” ujarnya.

Gratifikasi termasuk dalam salah satu dari tujuh tindak pidana korupsi maka pelanggaran atas gratifikasi dapat mengakibatkan penjatuhan hukuman kurungan atau denda. Ancaman bagi penerima bisa pidana penjara seumur hidup atau pidana 4 tahun juga pidana denda mulai Rp200 hingga Rp1 miliar.

Namun demikian undang-undang ini juga memberikan way out atas penerimaan yang masuk kategori gratifikasi yaitu pelaporan atas gratifikasi selambat-lambatnya 30 hari kerja sejak gratifikasi tersebut diterima.

Untuk itu Minto juga mengungkapkan kepada para peserta bagaimana cara untuk menghindari gratifikasi. Menurut dia, klasifikasi gratifikasi terdiri dari tiga kelas. Yakni gratifikasi yang mengarah ke suap, gratifikasi dalam kedinasan, dan gratifikasi dalam konsep UU Nomor 20 Tahun 2001. “Bagaimana mencegah sanksi gratifikasi antara lain dengan AMATI. Yaitu mengenali kembali tentang Aturan, Maksud, Agenda, Terbuka, dan Identitas,” paparnya.

Minto mencontohkan beberapa jenis gratifikasi di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di antaranya pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terima kasih atas jasa yang diberikan, pemberian hadiah berupa barang sebagai cindera mata, pemberian pinjaman barang dari rekanan kepada pejabat/pegawai negeri secara cuma-cuma, penerimaan honor sebagai narasumber oleh seorang penyelenggara negara atau pegawai negeri dalam suatu acara, pemberian barang oleh kawan lama atau tetangga, pemberian fasilitas penginapan oleh dinas pendidikan setempat kepada penyelenggara negara atau pegawai negeri pada saat kunjungan di daerah, serta hadiah karena prestasi.


Sumber: unila.ac.id

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Karya Tulis dan Info Lomba